Sulit untuk aku ceritakan bagaimana detailnya aku bertemu dengannya dan mengenalnya. Karena sekali lagi. Ini sangat konyol. Ahahahaha.
Aku bertemu dengannya di tempat lesku waktu SMp dulu. Les Matematika. Badannya tegap, putih tinggi. Rambutnya jabrik ke atas. Dia suka mengenakan kemeja kotak kotak berwarna abu-abu dan celana kins hitamnya. Dia sekolah di tempat yang tak jauh dari rumahku. Sangat tidak jauh hanya sekitar 1 kilometer dari rumah ku. Dia bilang dia mengagumiku karena aku mahir dalam mengerjakan soal matematika. Jika kau di tempat lesku aku tak pernah benar-benar belajar tapi benar-benar mengajar. Aku malah di suruh mengajari anak lain mengerjakan soal (terbuktikan aku mahir mengerjakan soal matematika SMP. Sampai sekarang aku masih suka mengajari anak-anak SMP dan SD di rumah ku saat aku luang tentunya).
Dia selalu memintaku untuk membimbingnya. Hahahahaha. Itu sangat aneh menurutku. Dia benar-benar mendebgarkan ku saat aku menjelaskan dan menggodaku agar aku grogi padahal itu tak mempan. Sejak saat sering membimbingnya aku mulai akrab dengannya. Ya. Hanya sekedar akrab, tak lebih.
Aku juga sering taruhan dengannya siapa yangnilai ujian matematikannya paling bagus kita dapet pulsa 50rb. Jumlah yang besar menurutku. Aku suka bersamanya karena aku menganggapnya temanku.
Tapi segalanya berubah saat dia menyatakan cintanya padaku. Aku tak pernah benar-benar menyukainya seperti aku menyayangi seseorang atau istilahnya mencintai. Aku mengamnggapnya sahabat saja. Aku bilang aku tak bisa. Kita bisa menjadi sahabat selamanya.
Tak sesuai harapan ku. Dia mengirimiku surat setiap harinya selama 10 hari sebelum dia benar-benar membenciku. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Dia mulai meng add I semua teman fb ku. Menerorku melalui mereka. Heemmbbb… tak tahan dengan semua ini aku minta bantuan pada teman ku untuk pura-pura menjadi kakak ku dan memarahinya.
Tapi sayang dia tak terima. Memang awalnya dia menerima semu alasan kakakku memarahinya. Yamg membuatnya marah adalah ‘Kenapa aku harus berbohong padanya?’. Bingung aku. Aku tau aku salah tapi itu yang terbaik*menurutku.
Aku selalu menyesali tindakan bodoh ku itu dan berusaha untuk mendapatkan maafnya. Tapi….terlanjur. Dia benar-benar membenciku. Pertemuan yang selalu di warnai senyum kini hanya ada tatapan dingin nan sengit. Dia menatapku saat bertemu tapi matanya mengisyaratkan bahwa benar-benar tak ada maaf untukku.
Aku hanya ingin mengatakan:
“Maafkan aku sebelumnya telah membohongimu dengan cara yang bodoh itu. Maaf juga aku tak bisa menerima perasan mu padaku. Aku mohon maafkanlah aku. Dan jadilah sahabat ku seperti dulu”
Ku harap kau mengerti








0 komentar:
Posting Komentar